Maaf kan aku Ruang sepi…
Archive for the “Puisi” CategoryBulan inikah yang membikin dingin, Mengenang Chairil Anwar, lahir di Medan 26 Juli 1922, wafat 29 April 1949 di Jakarta. Pernah punya hati untuk merasa perih yang merajam tersenyum sekilas hanya sekedar tanda aku dapat bertahan aku ingin seperti edelweis yang bertahan disegala cuaca tapi apa dia aku hanya sedap malam… aku bagi kupu-kupu yang hanya bersinar beberapa hari tak mampu melihat dunia untuk selamanya terpatah hati untuk tersenyum disini aku sendiri bersama bongkahan es yang kian menutupi tubuh ku dan membuat hati kian membatu sendiri itu begitu nyaman tapi hati berontak ada yang tersakiti tapi tak bisa bersuara hanya diam membisu dan bergumam sakit ini telah aku rasakan…
Sebuah short message service (sms) dari + 628 5292 888 0***, received 17 :21:07/29-06-2008, size 2,5 kb. terpejam keputusanmu (Cosmic : sebuah kisah)
Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku… sebengis kematian… Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini… aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman” (Kahlil Gibran) |



























Entries (RSS)