Archive for the “Puisi” Category


Seperti percikan-percikan gerimis yang berkilau pada daun
Tombak-tombak musim melesatkan keperihanku
Anak-anak kunang berpendar dan melepaskan waktu
Butir-butir embun menyusut di dasar jejakku
Akar-akar menyerap setiap buluh kelabu
Rumput-rumput memeluh di sepanjang langkahku. Tapi seperti
Keheningan yang menjelma menara setelah jalan yang meliuk itu
Semuanya terlihat begitu berkilau dan runtuh
Seperti ingin menopang angin
Aku catat semuanya dalam sajak-sajak bening
Udara penuh kebisuan dan warna cuaca yang dingin
Seluruh kesunyian tegak dan menjelma retakan-retakan dinding
Lantas mencari aroma mayatku yang sedih
Kini, segalanya telah saling berhadapan dalam senyap yang nyaring
Meski patung-patung telah terbakar. Dan pada kuburan
Kesepianku yang asin seribu cahaya telah diterjunkan di sana
1999.

Puisi-puisi Indra Tjahyadi

Comments No Comments »

Saat ini kuberada pada sisi garis yang terluar
melihat dengan sejuta kecamuk dalam diri ini
gemuruh nafas satu-persatu mengalunkan irama kalbu
satu-persatu menelusuri jejak yang tertinggalkan

——–

Ingin kugerakan rasa untuk ikut berbaur
membagi rasa idelaisme yang dulu menghinggapi diri ini
namun kaki ini tak kuasa melintas garis itu
terpaku dibatas garis keinginan dan harapan lama

http://puitika.net/item/667

http://cimoetz.deviantart.com

Comments No Comments »

///hufhhh………..tak mudah…..

Comments No Comments »

Pernah pada suatu hari
Kudapati gelisahmu di ujung subuh
Tentang kupu-kupu yang di sayapnya
Terluka sebelah dan tak dapat lagi
Menyeret pintu samudra diambang pagi

Comments No Comments »

sunyi pun tiba

sebelum sempat kubaca gelagat

mendung cuaca di langit matamu

satu dua puisiku mati

jatuh bersama air mataku

waktu ini serasa diam

perlahan menghapus duapuluh dua puisiku

Dirimu terdiri dari dua; satu membayangkan ia mengetahui dirinya dan
yang satu lagi membayangkan bahawa orang lain mengetahui ia.(Kahlil Gibran)

Comments No Comments »